Candi Angsa
Candi Angsa adalah bagian dari Kompleks Candi Prambanan yang didirikan pada abad IX M. Para ahli arkeologi, seperti J.G. de Casparis, mengaitkan pembangunan kompleks ini dengan Prasasti Siwagrha berangka tahun 778 Çaka atau 856 Masehi, yang menggunakan bahasa Jawa Kuno dan mencatat peristiwa sejarah serta rincian gugusan candi, termasuk peresmian sebuah bangunan suci untuk Dewa Siwa, yang disebut Siwagrha atau Siwalaya. Kompleks Candi Prambanan ditemukan dalam keadaan runtuh oleh pegawai kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) bernama C.A. Lons pada 1733, namun baru mendapatkan perhatian pemerintah Hindia-Belanda pada 1885, ketika J.W. Ijzerman memulai pembersihan. Pada pemugaran tahun 1991, ditemukan peripih di ketiga sudut candi dan lantai pintu masuk bilik, berupa wadah segi empat yang berisi tanah dan peripih logam. Peripih dari sudut Timur Laut terdiri dari emas, perak, dan perunggu, sedangkan dari sudut Barat Laut ditemukan peripih perak dan perunggu, serta dari sudut Barat Daya hanya peripih emas. Wadah peripih di lantai pintu masuk berisi pasir, periuk perunggu, lempengan emas, perak, perunggu, serta fragmen manik-manik dan biji-bijian. Fungsi peripih ini adalah sebagai zat yang menghidupkan candi melalui rangkaian ritus keagamaan garbhadana, untuk penyatuan inti kedewaan dalam candi. Sejarah pelestarian Candi Angsa dimulai pada 1885 dengan pembersihan pertama oleh Ir. J.W. Ijzerman, dilanjutkan pada 1889 oleh Groneman, dan pada 1915 dengan pemotretan relief oleh Van Stein Callenfels dan L. Poerbatjaraka. Pemugaran dimulai pada 1918 oleh Oudheidkundige Dienst, dan pra-pemugaran dilakukan pada bagian tubuh dan atap candi-candi Wahana termasuk Candi Angsa. Setelah persiapan, pembongkaran dan percobaan dilakukan pada 1991, dilanjutkan pada 1992 dengan pembuatan batu pengganti dan penyusunan kembali. Candi Angsa diresmikan pada 1993, dengan studi teknis pasca gempa pada 2006, studi evaluasi sistem perkuatan pada 2007, dan rehabilitasi pada 2008. Candi Angsa terletak di dalam Kompleks Candi Prambanan, di Padukuhan Karangasem, Kalurahan Bokoharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada 13 Desember 1991, bersama candi-candi lainnya di Kompleks Candi Prambanan, Candi Angsa ditetapkan sebagai warisan budaya dunia dengan nama Prambanan Temple Compounds (Kompleks Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Lumbung, Candi Bubrah, dan Candi Asu) dengan nomor C.642. Berdasarkan ketetapan UNESCO, pada 1998 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Kompleks Candi Prambanan sebagai Kawasan Cagar Budaya peringkat nasional berdasarkan surat keputusan No. 157/M/1998, yang kemudian diperbarui dengan surat keputusan No. 278/M/2014. Candi Angsa terletak di timur Candi Brahma dan memiliki ukuran yang lebih rendah dari Candi Brahma. Candi ini memiliki pola tapak persegi yang semakin meruncing ke atas dan berakhir pada kemuncak berbentuk ratna. Sebagai salah satu dari tiga candi wahana di Kompleks Candi Prambanan, Candi Angsa memuat konsep kendaraan para dewa, dan kemungkinan dulunya memiliki arca Angsa sebagai wahana Dewa Brahma, meskipun di dalam biliknya tidak ditemukan arca seperti pada Candi Nandi. Denah Candi Angsa berukuran 14,37 x 14,37 meter dengan tinggi 24,53 meter, terdiri dari kaki candi yang melambangkan bhurloka (dunia bawah), tubuh candi yang melambangkan bhuwarloka (dunia manusia), dan atap yang melambangkan swarloka (dunia dewa). Kaki candi terdiri dari dua tingkat dengan ukiran Kala di depan gapura, dan relief motif Prambanan pada dindingnya. Tubuh candi memiliki bilik berukuran 3,58 x 3,52 meter dengan ragam hias sulur-suluran yang dikelilingi pilaster. Atap candi terdiri dari lima tingkatan yang semakin kecil ke atas, dengan amalaka sebagai hiasan di setiap sisi tingkat. Saat ini, Candi Angsa telah dipugar dan dalam kondisi terawat di bawah pengelolaan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X.