Candi Banyunibo
Candi Banyunibo ditemukan pada tahun 1932 dan kemudian dilakukan penelitian dari tahun 1942 hingga 1943, dengan dua kali pemugaran, yaitu pada tahun 1942-1943 dan 1976-1978, di mana pemugaran terakhir memfokuskan pada atap candi yang berbentuk bingkai padma dengan puncaknya berupa stupika (dagoba). Asal pembangunannya belum dapat dipastikan karena tidak ada prasasti yang menjadi acuan, namun berdasarkan perbandingan bentuk atap candi dengan candi lain dari masa yang sama, mirip dengan candi Plaosan, diperkirakan berasal dari abad ke-9, yaitu masa Dinasti Sailendra. Candi Banyunibo adalah candi Buddha yang dapat dilihat dari bentuk atap, relief-reliefnya, dan enam stupa yang mengelilingi candi induk, serta adanya relief Hariti, dewi pelindung anak-anak dalam agama Buddha, yang dipahatkan di atas ambang pintu. Dewi Hariti dalam agama Buddha dianggap sebagai manifestasi Dewi Kesuburan, dan juga dipandang sebagai Dewi Ibu dan Dewi Kekayaan, biasanya digambarkan sebagai dewi dengan alat genital yang menonjol dan selalu disertai anak-anak pengikutnya. Candi Banyunibo telah dicatat oleh Hoepermans dalam *Hindoe-oudheden van Java* (1864–1867) dan *Rapporten van den Oudheidkundigen Dient* (1913), halaman 253, serta dalam *Rapporten van den Oudheidkundigen Dient* di Nederlandsch-Indie (1915) dengan nomor 1297 (Verbeek no. 342). Candi Banyunibo merupakan kompleks percandian yang terletak di Dusun Cepit, Kelurahan Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dibangun di dataran yang dikelilingi perbukitan di sebelah Utara, Timur, dan Selatan. Ditemukan dalam keadaan runtuh, candi ini diteliti dari bulan November 1940 hingga Mei 1942, yang menghasilkan pemulihan bagian atap dan pintu. Pemugaran tahap pertama, yang berlangsung dari tahun 1940 hingga 1962, menyelesaikan soubasement, kaki candi, tubuh candi, dan pagar sisi utara, sedangkan tahap kedua dari tahun 1976 hingga 1978 memfokuskan pada atap candi. Candi Banyunibo diresmikan oleh Prof. Dr. Haryati Soebadio, Direktur Jenderal Kebudayaan, pada 4 Desember 1979. Kompleks ini terdiri dari satu bangunan induk dan enam candi perwara, dengan tiga di sisi selatan dan tiga di sisi timur. Candi induk menghadap ke arah barat, dengan pahatan tokoh-tokoh di pipi tangga yang identitasnya belum diketahui, hiasan kalamakara di ambang pintu, dan makara berakhir dengan relief singa di ujung pipi tangga. Tubuh candi berbentuk tambun, dengan relief wanita dikelilingi anak-anak di dinding selatan, dan pria duduk di dinding utara. Candi ini berukuran 15,325 x 14,25 m dengan tinggi 14,25 m dan kaki candi setinggi 2,5 m, masing-masing sudut candi memiliki Jaladwara sebagai saluran air hujan. Kaki candi terdiri dari beberapa panel dengan hiasan tumbuhan dari pot bunga, serta relief Hariti dan Vaisravana di selasar tanpa pagar langkan. Di dalam tubuh candi terdapat bilik berukuran 6,875 x 4,5 m dengan dinding berjendela yang di atasnya terdapat pilaster. Atap candi berbentuk daun bunga padma (ghanta) dengan puncak stupa terdiri dari prasadha, harmika, dan yasti, menandakan latar belakang agama Buddha dari Candi Banyunibo.