Candi Brahma
Bangunan Candi Brahma merupakan bagian dari Kompleks Candi Prambanan yang didirikan pada abad IX Masehi. Terkait pembangunan Kompleks Candi Prambanan, para ahli arkeologi seperti J.G. de Casparis mengaitkannya dengan Prasasti Siwagrha yang bertanggal tahun 778 Çaka atau 856 Masehi. Prasasti Siwagrha, yang menggunakan bahasa Jawa Kuno, memuat peristiwa sejarah abad IX Masehi dan menyebutkan rincian gugusan candi, termasuk peresmian bangunan suci untuk Dewa Siwa yang disebut Siwagrha atau Siwalaya, yang dikaitkan dengan Candi Prambanan. Kompleks Candi Prambanan ditemukan dalam kondisi runtuh oleh pegawai kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dari Belanda, C.A. Lons, pada 1733. Meskipun ditemukan, Kompleks Candi Prambanan tidak mendapat perhatian dari pemerintah Hindia-Belanda hingga 1864. Pembersihan baru dimulai pada 1885 oleh J.W. Ijzerman, yang mendirikan “Archaelogische Vereeniging Van Jogja.” Pemugaran Kompleks Candi Prambanan dimulai pada 1918 dengan pemugaran Candi Siwa terlebih dahulu oleh Oudheidkundige Dienst (Dinas Purbakala Hindia-Belanda). Pemugaran fisik terhadap Candi Brahma baru dimulai pada 1977, dengan pembongkaran sisa bangunan selesai pada Agustus 1978, yang mengungkapkan volume batu kulit dan isi candi. Setelah pembongkaran, dilakukan penyusunan kembali batur candi yang diperkuat dengan corbeton, kolom, dan plat pada 1978. Pembangunan kembali kaki candi selesai pada 1979, mencakup pemasangan batu-batu lorong, batu pelipit, batu simbar, jaladwara, gapura pintu masuk, dinding relief dewa lokapala, dan lantai bilik candi. Pada 1980, pemugaran berhasil menyelesaikan sebagian badan candi I dan beberapa kegiatan penyusunan percobaan untuk mempermudah pelaksanaan penyusunan kembali. Candi Brahma, yang terletak di dalam Kompleks Candi Prambanan di Padukuhan Karangasem, Kalurahan Bokoharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan bagian penting dari warisan budaya dunia yang ditetapkan pada 13 Desember 1991 dengan nomor C.642, termasuk dalam Prambanan Temple Compounds bersama Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Lumbung, Candi Bubrah, dan Candi Asu. Mengikuti ketetapan UNESCO, pada 1998, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Kompleks Candi Prambanan sebagai Kawasan Cagar Budaya peringkat nasional berdasarkan surat keputusan No. 157/M/1998 dan diperbarui pada 2014 dengan surat keputusan No. 278/M/2014. Secara konseptual, Candi Brahma dirancang berada di utara Candi Siwa dengan filosofi tingkatan yang lebih rendah. Candi ini memiliki pola tapak persegi yang semakin meruncing ke atas, berakhir pada kemuncak berbentuk ratna, berdiri pada alas pondasi berukuran 20 m x 20 m dan berketinggian 33 m. Berbeda dari Candi Siwa, Candi Brahma hanya memiliki satu pintu masuk yang terletak di sisi timur. Di dalam candi terdapat area Brahma dengan arca Dewa Brahma. Struktur Candi Brahma terdiri dari kaki yang melambangkan bhurloka (dunia bawah), tubuh yang melambangkan bhuwarloka (dunia manusia), dan atap yang melambangkan swarloka (dunia dewa). Pada bagian kaki candi terdapat selasar yang dibatasi oleh pagar langkan dengan relief cerita Krisnayana dan motif khas Prambanan. Tubuh candi memiliki satu bilik yang dapat diakses melalui tangga di sisi timur, dengan ambang pintu yang dihiasi Kala-Makara dan bilik yang memuat arca Dewa Brahma. Atap candi terdiri dari empat tingkatan yang mengecil ke atas dan dihiasi dengan ratna, dengan ratna terbesar di puncak. Candi Brahma telah dipugar dan saat ini dalam kondisi terawat di bawah pengelolaan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X.