Candi Perwara Utara Candi Ijo (Candi D)
Kompleks Candi Ijo ditemukan pada tahun 1886 oleh Dorrepaal, administrateur perkebunan tembakau “Saragedoeg”. Pada tahun 1887, situs tersebut digambar oleh H. L. Leydie Melville dan ditulis oleh J. Groeneman dalam Tijdschrijft Batavia Genootschap XXXII (halaman 313-338). Penemuan berikutnya dilakukan oleh C. A. Rosemeijer yang menemukan tiga arca batu dan lingga yoni di bilik Candi Ijo. Kompleks Candi Ijo kemudian masuk dalam laporan inventarisasi tinggalan arkeologi yang disusun oleh Batavia Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada tahun 1909. Pada masa kolonial, kondisi candi masih berupa reruntuhan yang tertutup oleh gundukan tanah dan semak belukar. Pada tahun 1920, Oudkundige Dienst mengirim P.J. Perquin untuk melakukan penelitian sebagai langkah awal pemugaran. Penelitian berikutnya dilakukan oleh Dinas Purbakala mulai tahun 1958, dan pemugaran Bangunan Induk Candi Ijo akhirnya selesai pada tahun 1997. Pelestarian Bangunan Induk Candi Ijo terus dilakukan oleh Indonesia melalui Dinas Purbakala mulai tahun 1958, dengan pemugaran yang dilakukan oleh SPSP Daerah Istimewa Yogyakarta dan selesai pada tahun 1997. Observasi keterawatan dan kerusakan Bangunan Induk dan Perwara Candi Ijo dilakukan oleh BPCB DIY pada 5-7 Februari 2014, diikuti dengan kegiatan konsolidasi Bangunan Induk dan Perwara Candi Ijo oleh BPCB DIY pada 15 September – 12 November 2014. Candi perwara adalah candi kecil pelengkap dalam sebuah kompleks percandian. Di Kompleks Candi Ijo, terdapat bangunan Candi Perwara Utara Candi Ijo (Candi D) yang terletak di area Bukit Ijo pada ketinggian 357 mdpl. Berdasarkan penelitian, kompleks ini memiliki 17 objek bangunan dan struktur yang tersebar pada 11 teras berundak. Candi Perwara Utara Candi Ijo (Candi D) memiliki ukuran denah 5,11 x 5,11 m dan tinggi 6,30 m. Candi ini merupakan peninggalan berlatarkan agama Hindu, terbukti dari temuan sumur yang diduga digunakan untuk perapian dalam upacara Agnihotra, sebuah upacara penting untuk memuja Dewa Agni. Kaki candi berdenah bujur sangkar dengan tinggi 71 cm dan tanpa hiasan, serta dilengkapi selasar tanpa pagar. Tubuh candi memiliki tinggi 2,53 m dengan pintu menghadap timur yang dihiasi kala-makara di ambang pintu. Di dinding candi terdapat relung dengan ukuran 96 x 57 cm yang diduga digunakan untuk sirkulasi udara selama pemujaan, serta bilik candi berukuran 2,22 x 2,22 m yang berisi sumur perapian. Atap candi terdiri dari empat tingkatan dengan dua tingkatan teratas memiliki puncak ratna yang tidak utuh.