Candi Sari
Candi Sari dibangun sekitar abad ke-8 Masehi, hampir bersamaan dengan Candi Kalasan, berdasarkan kesamaan pola hias dan keberadaan bajralepa. Candi ini merupakan salah satu candi yang unik dari sisi arsitektur karena menampilkan bangunan bertingkat, mirip dengan Candi Plaosan di Prambanan, Jawa Tengah. Saat pertama kali ditemukan, Candi Sari dalam kondisi rusak, meskipun seluruh bangunan tidak tampak roboh, sesuai dengan gambaran H.N. Sieburg pada tahun 1840. Pada tahun 1929/1930, Candi Sari dipugar untuk pertama kalinya, namun tidak sepenuhnya sempurna; bagian selasar keliling bangunan, penampil pada pintu masuk, dan stupa atap tidak terpasang utuh karena sisa-sisanya telah hilang. Candi Sari telah dicatat oleh Mackensie dalam "Narrative of Journey to Examine Remains of an Ancient City and Temple at Bambana in Jawa" (Verhand. Bat. Gen. VII, 1814) dan terdaftar dalam "Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nedelandsch-Indie 1915" dengan nomor 1288 (Verbeek no. 352). Candi Sari memiliki denah empat persegi panjang dengan ukuran 17,3 x 10 m dan konstruksi bangunan bertingkat. Bangunan bertingkat seperti ini juga dapat ditemukan pada relief Candi Borobudur. Candi ini terbagi menjadi tiga bilik yang kemungkinan dulunya menampung arca Buddha yang diapit oleh Bodhisatwa. Diperkirakan bahwa pembagian antara ruang atas dan bawah pada candi ini dulunya dipisahkan oleh lantai kayu. Pada dinding luar candi, terdapat relief-relief Bodhisatwa yang berjumlah 38 buah, dengan distribusi 8 di sisi timur, 8 di sisi utara, 8 di sisi selatan, dan 14 di sisi barat. Relief-relief tersebut menggambarkan Bodhisatwa berdiri sambil memegang bunga teratai. Selain itu, pada sisi kanan dan kiri masing-masing jendela, dipahatkan makhluk kayangan berupa kinara dan kinari, yaitu makhluk bertubuh burung dengan kepala manusia.