Candi Sumberwatu

Sejarah Penemuan Candi Sumberwatu tercatat dalam Berita Penelitian Arkeologi tahun 1985, yang hanya menyebutkan adanya indikasi candi di sekitar Arca Ganesha Sumberwatu serta penemuan sejumlah batu candi oleh penduduk setempat yang disebut Sumur Bandung (Soeroso, 1985). Laporan identifikasi di Sumberwatu pada 1985 mengungkapkan penemuan sebuah peripih berukuran 36,5 x 35,5 cm dengan lubang berbentuk segitiga di tengahnya, di sekitar segitiga diukir empat atribut (searah jarum jam): gada (di puncak segitiga), panah, tombak, dan roda (BPCB, 1985). BPCB Daerah Istimewa Yogyakarta kemudian melakukan ekskavasi pada tahun 2004 dan berhasil mengidentifikasi situs ini sebagai peninggalan agama Buddha (BPCB, 2013). Pada tahun 2009, tanah Candi Sumberwatu dibeli oleh PT. Dwitata Pratama dan digunakan sebagai basecamp pecinta Aerosport, serta sejak tahun 2010 tanah tersebut dikembangkan menjadi resort (BPCB, 2013). Sejarah pelestarian Candi Sumberwatu dimulai dengan kegiatan identifikasi yang dilakukan dalam “Laporan identifikasi di Sumberwatu, Bogem, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Yogyakarta” pada 1985. Selanjutnya, BPCB Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan ekskavasi pada tahun 2004 dan 2012. Disertasi oleh Véronique Myriam Yvonne Degroot pada 2009 berjudul “Candi Space and Landscape: A Study on the Distribution, Orientation and Spatial Organization of Central Javanese Temple Remains” turut berkontribusi dalam studi ini. Pelaksanaan pemugaran Candi Sumberwatu dilakukan oleh BPCB Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2013 melalui SK No. KP.105/202.A3/BP3/KPK/2013. Candi Sumberwatu berada di antara dataran tinggi Ratu Boko dan Gunung Pegat, beberapa puluh meter di bawah Arca Ganesa (Degroot, 2009). Penduduk setempat dahulunya mengenal struktur ini sebagai Sumur Bandung, yang dalam legenda dipercaya sebagai tempat Raja Gupolo mengubur Bandung Bondowoso, tokoh dalam cerita rakyat Rorojonggrang. Candi Sumberwatu berbentuk stupa dari batu andesit, yang menurut Borobudurpedia, adalah bangunan suci agama Buddha berbentuk genta dan biasanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan relik atau benda-benda suci sang Buddha. Stupa terdiri dari tiga bagian: bagian dasar berbentuk membulat disebut Anda, bagian tengah disebut Yasti, pagar yang mengelilinginya disebut Harmika, dan bagian puncak berupa payung disebut Chatra. Stupa melambangkan tempat penyimpanan abu jenazah Buddha Gautama (Balai Konservasi Borobudur, 2017). Struktur Candi Sumberwatu sebagai peninggalan agama Buddha didukung oleh temuan komponen stupa seperti Yasti dan Padma (BPCB, 2013). Candi ini memiliki konsep memusat dengan titik pusat stupa, dikelilingi minimal dua pagar sebagai batas halaman, dengan halaman I seluas 966 m² dan halaman II 2.025 m² (BPCB, 2013). Konstruksi candi menunjukkan keunggulan pemahaman teknologi masyarakat pendukungnya pada waktu itu, yaitu memanfaatkan bedrock sebagai pondasi (BPCB, 2013). Candi Sumberwatu terdiri dari enam bagian: (1) Bagian Batur, setinggi 79 cm dengan teras berbentuk bujur sangkar berukuran 8,9 x 8,9 m, dilengkapi dengan batu umpak berjumlah 12 dengan variasi bentuk segi delapan, segi empat, dan lingkaran; (2) Bagian kaki candi berbentuk bujur sangkar setinggi 69 cm dengan kaki segi delapan, kaki lingkaran, dan Padma; (3) Bagian Anda/tubuh stupa, yang jika digabungkan dengan bagian kaki memiliki tinggi total 3,36 m; (4) Bagian Harmika dengan tinggi 35 cm; dan (5) Yasti dengan tinggi 1,99 m.

Detail Objek Budaya

  • Nama Objek: Candi Sumberwatu
  • No Registrasi: 47.6/Kep.KDH/A/2022
  • Tanggal Register: 2024-07-18
  • Ketua Kelompok / Penanggung Jawab: Abhayagiri Villa and Resort
  • Kategori: Cagar Budaya
  • Alamat: Di dalam Kawasan Abhayagiri Villa and Resort