Gedung Sekip UGM
Sebutan Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan memang sangat beralasan, mengingat peran penting yang dimainkan oleh dua organisasi besar, yaitu Muhammadiyah dan Taman Siswa, dalam perjuangan melawan pendidikan kolonial dan meletakkan dasar pendidikan nasional. Kedua organisasi ini memainkan peran krusial pada awal abad ke-20 dalam mencerdaskan bangsa dan membangkitkan semangat perjuangan melawan penjajah. Sebagai reaksi terhadap keberadaan Muhammadiyah dan Taman Siswa, pemerintah Belanda mengeluarkan Onderwijs Ordonantie Sekolah Partikelir, juga dikenal sebagai Wilde Schoolen Ordonantie, yang membatasi ruang gerak sekolah-sekolah partikelir. Taman Siswa mengajukan protes yang kemudian diperjuangkan di Volksraad, sehingga ordonansi tersebut dicabut pada tahun 1933. Yogyakarta juga dikenal sebagai pusat pendidikan tinggi dengan berdirinya Universitas Gadjah Mada, yang dimulai dengan pertemuan pada 24 Januari 1946 di Gedung SMT Kotabaru. Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada, yang didirikan dengan dukungan para tokoh seperti Ki Hajar Dewantara dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, memulai perkuliahan pada 13 Maret 1946 dengan dua fakultas: Fakultas Sastra dan Fakultas Hukum. Meskipun perkuliahan terhenti pada akhir 1948 akibat pendudukan Belanda, usaha untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi kembali muncul setelah persetujuan Roem-Roijen pada Mei 1949. Dukungan Sri Sultan Hamengku Buwono IX memungkinkan perkuliahan dimulai kembali pada 1 November 1949 di berbagai lokasi, termasuk di kompleks Kadipaten untuk fakultas-fakultas baru. Penggabungan perguruan tinggi ke dalam Universitas Gadjah Mada secara resmi dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah No.23 tanggal 16 Desember 1949, menandai lembaran baru dalam pendidikan tinggi nasional Indonesia. Kompleks Bangunan Sekip UGM, yang dikenal sebagai Gedung Panca Dharma, terdiri dari beberapa bagian utama, termasuk Fakultas Pertanian dan Gedung Perpustakaan. Fakultas Pertanian mencakup empat kelompok bangunan: sisi timur, utara, tengah, dan selatan. Bangunan sisi timur berdenah persegi panjang dengan atap limasan, menghadap ke Jalan C. Simanjuntak, dan terdiri dari dua lantai. Lantai 1 memiliki 16 ruangan termasuk hall dan ruang menara, dengan struktur ubin tegel semen hitam ukuran 20 cm x 20 cm. Lantai 2 memiliki pola denah serupa, dengan 12 ruangan dan dua ruangan kecil di bagian menara. Bagian tengah lantai 2 adalah ruang sidang. Bangunan sisi tengah juga berdenah persegi panjang, beratap limasan, dan menghadap ke utara, dengan dinding batu bata berplester dan struktur ubin tegel semen. Lantai 2 dari bangunan sisi tengah memiliki 8 ruangan, termasuk ruang kuliah besar berukuran 20 m x 10,40 m. Bangunan sisi utara dan sisi selatan masing-masing memiliki denah persegi panjang dan atap limasan, dengan struktur ubin tegel semen dan dinding batu bata berplester. Bangunan tambahan di kompleks ini meliputi enam bangunan, termasuk ruang kuliah, musholla, dan garasi. Gedung Perpustakaan UGM terdiri dari tiga lantai yang menghadap ke timur, dengan denah berbentuk empat persegi panjang. Tampak depan gedung memiliki empat menara, dua di sudut dan dua di teras. Lantai 1 terdiri dari ruang utama/lobby dengan pintu geser timur, ruang pelayanan kartu anggota, ruang arsip, serta mushola dan toilet di bagian belakang. Lantai 2 dibagi menjadi ruang besar di sisi timur dan ruang lebih kecil di sisi barat, dengan struktur lantai berupa ubin teraso dan tegel.