NANGSRI - GIRIKERTO Kisah Kyai Benangsri dan Sendang Panguripan

Jalanan di Padukuhan Nangsri, Kalurahan Girikerto, Kabupaten Sleman, sepi, dengan hanya sesekali sepeda motor yang lewat, sementara kebun salak menjadi sumber pendapatan masyarakat. Menurut Drs. Suharto, mantan Lurah Girikerto, Padukuhan Nangsri memiliki peran penting dalam menjadikan Kalurahan Girikerto sebagai Desa Budaya Mandiri. Cerita sejarah mencatat, pada abad XIV, daerah utara Sleman mengalami kekeringan yang parah hingga menyebabkan kelaparan, hingga dua utusan Majapahit, Kyai Sapujagat dan Kyai Jajak, datang memberikan bantuan. Mereka berdoa dan mengeluarkan sumber air, yang dikenal sebagai Sendang Panguripan, yang membawa kehidupan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Kyai Jajak, yang menjaga keindahan sendang dan dapat menyembuhkan orang sakit, dihormati dan dinamai Kyai Benangsri. Setelah kematiannya, daerah tersebut dikenal sebagai Nangsri. Pada masa agresi militer Belanda, Nangsri menjadi tempat pertemuan para pejuang dan pemimpin lokal untuk berjuang melawan penjajah, meninggalkan warisan sejarah yang kaya. Budaya Ngrowhod, yang dipelopori Suharto, kini menjadi tradisi dan simbol persatuan masyarakat Girikerto, melibatkan semua padukuhan dalam ritual yang menyatukan mereka di Sendang Panguripan.

Detail Objek Budaya

  • Nama Objek: NANGSRI - GIRIKERTO Kisah Kyai Benangsri dan Sendang Panguripan
  • Kategori: Tradisi Lisan
  • Alamat: Padukuhan Nangsri, Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman