Padukuhan Gejayan : Dari Anggajaya menjadi Gejayan
Sri Sultan Hamengku Buwana I, dikenal sebagai raja bijaksana dan ahli strategi, yang tetap menolak campur tangan Belanda meski berdamai dengan mereka setelah perang sengit. Putranya, Bendoro Pangeran Hangabehi, mewarisi semangat anti-kolonial dan menjadi panglima perang melawan Belanda. Dalam suatu pertempuran, Hangabehi membawa pasukannya ke Gunung Merapi dan mendirikan pemukiman sementara di bawah pohon besar, yang kelak menjadi wilayah Gejayan. Putra Hangabehi, Raden Mas Jalmi atau Panembahan Brajamusti, meneruskan perjuangan dengan Pangeran Diponegoro melawan Belanda, menciptakan jalur rahasia hingga ke Kaliurang. Salah satu pengawalnya, Kyai Joyoilani, yang kemudian dikenal sebagai Kyai Anggajaya, membuka pemukiman Gejayan bersama para prajurit sembuh. Nama "Gejayan" lahir dari sebutan "Anggajayan," yang secara bertahap dikenal masyarakat. Hingga kini, Gejayan memelihara makam Kyai Anggajaya dan Panembahan Brajamusti sebagai tempat ziarah, menandai sejarah perjuangan dan persatuan leluhur. Tradisi Nyadran setiap menjelang Ramadhan menunjukkan kerukunan warga yang dipimpin doa dari berbagai agama. Padukuhan ini terus menjaga nilai-nilai tradisi di bawah kepemimpinan dukuh ketiga, Bapak Nuryanto, yang melanjutkan kepemimpinan para pendahulunya sejak 1946. Kini, dengan luas 47 hektare dan lebih dari 2.500 jiwa, Padukuhan Gejayan masih mengenang jasa Kyai Anggajaya, yang namanya diabadikan sebagai nama jalan dan terus dihormati warga sebagai bagian penting dari sejarah dan identitas wilayah tersebut.