Padukuhan Ngentak : Dari Tanah yang Ngentak-entak
Padukuhan Ngentak adalah salah satu padukuhan di Kalurahan Pondokrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, DIY, yang dulunya merupakan kalurahan dengan lurah pertama bernama Bapak Sosro Pranoto. Menurut keterangan para sesepuh, nama Ngentak sudah ada sejak masa penjajahan Belanda, saat tempat itu dianggap kosong dan rimbun. Masyarakat awalnya hidup rukun dengan bercocok tanam, namun Belanda menyebut daerah tersebut "Ngentak-entak," yang kemudian disingkat menjadi Ngentak. Seiring waktu, padukuhan ini dikenal memiliki masjid tertua di Kapanewon Tempel, Masjid Muhtadin, yang didirikan pada tahun 1901, dan pondok pesantren yang didirikan oleh Kiai Abdul Hamid. Pada tahun 1948, Ngentak dan Glagahombo digabung menjadi Kalurahan Pondokrejo, diambil dari keberadaan pondok pesantren dan kata "rejo," yang berarti lestari. Saat ini, Padukuhan Ngentak memiliki luas 11 hektare, dengan 219 KK dan 725 jiwa penduduk.