Jabar Juwes

Kesenian ini muncul karena adanya kebosanan atau kejenuhan masyarakat penonton terhadap kesenian Wayang Wong, Kethoprak dan Wayang Golek. Pada waktu itu kelompok seni dan pelaku seni di Desa Sendangagung tidak tinggal diam menghadapi kondisi yang demikian itu, sehingga dibawah inisiatif dan kreativitas Bapak Darmo Suwito dan Bapak Harjo Suprapto (Kepala Dukuh Dusun Tengahan pada waktu itu) kemudian mereka berkreasi dan berinovasi memadukan antara Wayang Wong, Kethopak dan Wayang Golek menjadi bentuk kesenian baru yang disebut Jabur dengan tokoh lawaknya yang bernama Jeber dan Juwes dengan mengangkat cerita Menak dalam bentuk lakon-lakon yang dipentaskan.

Jabarjuwes masih dipertahankan di Desa Sendangagung karena adanya fungsi yang masih relevan dengan kebutuhan masyarakat antara lain: fungsi hiburan misalnya pada acara Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, Upacara Merti Dusun, dan Hari Jadi Kabupaten Sleman. Fungsi adat untuk melepas nadar. Fungsi sosial sebagai alat pemersatu masyarakat tanpa membedakan agama, kelas sosial, jabatan, dan lain-lain. Kesenian Jabarjuwes tidak mengenal istilah tanggapan (bayaran), namun hanya sekedar pengganti biaya operasional dan persiapan sampai selesainya pertunjukan. Setiap pementasan para pemain baik penari maupun penabuh melaksanakan dengan sukarela (tanpa bayaran).